AdGuard Home: Solusi Internet Bersih dan Aman dari Iklan dan Virus

Dasbor AdGuard Home milik Cak Sono, menampilkan berbagai statistik seperti 164792 permintaan, 30442 diblokir, dan 15 situs malware diblokir pada seminggu terakhir.

Semakin hari, banyak situs bermunculan. Mulai dari blog seperti ini, media sosial, forum, hingga bisnis. Di antara situs-situs yang bermunculan itu, tak jarang pula situs mencurigakan yang memang sengaja diisi virus: baik itu virus yang ‘harmless’ seperti cryptominer tetapi menggunakan CPU dan RAM perangkat, hingga yang sembunyi-sembunyi mencuri login cookie dari browser.

Selain situs-situs yang baru, ketika mengakses situs-situs lama, seringkali pengguna ‘dipaksa’ melihat iklan yang tidak enak dipandang. Iklan-iklan tersebut pun beragam. Ada yang hanya berupa tulisan, gambar pamflet, animasi, serta video, yang tentunya menawarkan berbagai produk atau jasa. Tak jarang pula iklan berbau seronok muncul ketika sedang membaca berita dari situs seperti kompas.com atau detik.com. Lucu memang, mengingat mereka adalah media ternama di Indonesia namun iklan yang muncul terasa hampir tak termoderasi.

Dalam artikel ini, saya akan memaparkan pengalaman saya menggunakan AdGuard Home dalam membasmi iklan-iklan tersebut. Meski tidak 100% efektif, setidaknya internet saya menjadi lebih lincah dan lebih hemat kuota karena tidak memuat iklan yang memerlukan bandwidth besar.

Mengenal AdGuard Home

AdGuard Home (AGH) adalah perangkat lunak pemblokir situs yang tidak diinginkan. Tersedia secara gratis dan dilisensikan dalam GPLv3, aplikasi ini bebas digunakan oleh perorangan maupun perusahaan. AdGuard Home sendiri diiklankan sebagai pemblokir iklan dan pelacak di situs resminya, tetapi ia memiliki manfaat yang lebih dari itu. Akan tetapi, artikel ini hanya akan mengulas tentang manfaatnya dalam memblokir iklan dan situs virus.

Pada dasarnya, AGH adalah sebuah server Domain Name System (DNS) yang menerjemahkan domain seperti caksono.com menjadi alamat IP (a.b.c.d) sehingga peramban seperti Firefox dan Chrome dapat mengakses blog ini.

DNS sendiri dapat dianalogikan sebagai buku telepon yang memuat domain dan nomor telepon (alamat IP) yang diasosiasikan kepadanya. AGH bekerja dengan cara menjadi sebuah buku telpon, sama seperti server DNS lainnya; bedanya adalah AGH sengaja menghapus nomor telepon dari domain-domain iklan. Dengan demikian, ketika situs yang punya iklan diakses melalui komputer yang tersambung dengan AGH, koneksi iklan akan terganggu sehingga ia tidak tampil dalam situs. Sederhananya seperti itu.

Pengalaman dengan AdGuard Home

Pemasangan

AdGuard Home memenuhi apa yang saya butuhkan dari sebuah pemblokir iklan: tinggal pasang langsung pakai. Proses memasang dan konfigurasi awalnya pun mudah, hanya perlu menjalankan skrip instalasi di terminal Linux, buka alamat yang tertera, buat username admin, pilih jaringan di mana AGH akan berjalan, instal, lalu ubah DNS yang ada di komputer ke server AGH. Beres!

Itu untuk konfigurasi server DNS biasa yang berjalan di UDP port 53. Supaya AGH bisa digunakan dengan DNS-over-HTTPS (DoH) di PC atau DNS-overTLS (DoT) di Android private DNS, diperlukan nama domain dan sertifikat SSL. Iya, domain seperti caksono.com, google.com, x.com, atau lainnya. SSL sendiri adalah bukti keaslian sebuah situs, yang mana ketika diakses di peramban menunjukkan gambar gembok terkunci dan alamat seperti https://caksono.com. Ada s-nya.

Untuk mendapatkan domain murah bisa menggunakan domain .xyz 1.111B yang tarifnya hanya USD 1 per tahun, langganan tahunan, atau lebih murah jika anda beruntung. Minusnya, domain yang hanya berisikan angka saja yang bisa dapat harga khusus. Jika ingin domain yang ada hurufnya, dikenakan biaya penuh. Jangan lupa arahkan IPv4 A dan IPv6 AAAA ke server DNS supaya AGH bisa diakses,

SSL bisa didapatkan secara gratis melalui Let’sEncrypt yang bisa didapatkan dengan program acme.sh, program sumber terbuka untuk mendapatkan sertifikat SSL gratis dari beberapa penyedia seperti Let’sEncrypt.

Setelah mendapatkan domain dan sertifikat SSL, tetapkan nama domain yang akan digunakan sebagai DoH dan DoT pada bagian pengaturan enkripsi di AGH. Tuliskan nama domain atau subdomain, misalnya 193882.xyz atau dns.193882.xyz, beri tanda centang DoH dan DoT, opsional untuk QUIC. Jika sudah klik simpan.

Kemudian, geser ke bawah ke bagian sertifikat untuk menetapkan sertifikat SSL yang telah diperoleh dari acme.sh pada server AGH. Jangan lupa tetapkan lokasi private key dari sertifikat itu agar SSL bisa berjalan lancar.

Setelah itu, coba buka domain lokasi AGH, lalu masuk dengan username dan password yang disetel saat pemasangan. Jika konfigurasi SSL dilakukan dengan benar dan tepat, AGH akan bisa diakses melalui nama domain. Jika ada kendala sampaikan saja di kolom komentar untuk saya bantu cek apa yang perlu dibetulkan.

Jika sudah bisa login, tinggal atur DNS di peramban (Secure DNS di Chrome) dengan https://domainlokasiagh.com/dns-query dan voila, selamat menikmati internet bebas iklan.

Konfigurasi Tambahan

Klien

AGH menawarkan akses melalui klien atau member untuk mengidentifikasi sumber permintaan suatu DNS atau whitelist akses ke server AGH. Misalnya, dibuatlah member dengan nama sono pada pengaturan klien di AGH, maka sono bisa menggunakannya melalui DoT sono.dns.domainagh.com atau DoH https://dns.domainagh.com/dns-query/sono.

Selain untuk identifikasi sumber permintaan DNS atau whitelist dan blacklist, klien juga bisa memiliki konfigurasinya sendiri yang menimpa peraturan AGH. Misal, anak punya HP dan diberi identifikasi anak1, maka di peraturan klien anak1 bisa diatur untuk selalu menggunakan SafeSearch – memaksakan SafeSearch dari mesin telusur agar anak tidak memperoleh situs dewasa. Bisa juga memblokir layanan tertentu seperti X, Facebook, Instagram, dan lain sebagainya. Meskipun SafeSearch dan blokir layanan ada di peraturan umum, mengaturnya pada tingkat klien memberikan kontrol lebih terhadap perangkat yang digunakan.

Sebuah cerita, adik saya punya HP yang tersambung ke AGH saya, sehingga pada saat jam sekolah saya bisa atur klien adik supaya tidak bisa buka Instagram, Facebook, dan YouTube. Ketika jam sekolah berakhir, adik saya bisa buka situs itu lagi secara normal.

Bagi pemilik bisnis, AGH juga bisa digunakan untuk memantau dan membatasi akses karyawan ke situs-situs tertentu saat jam kerja. Bisa juga untuk memantau karyawan buka apa saja saat jam kerja. Namun boleh tidaknya praktik itu dilakukan dikembalikan lagi ke kontrak kerja dan hukum yang berlaku di wilayah tempat kerja.

Blocklist Banyak

AdGuard Home juga mendukung berbagai filter ternama seperti ABPIndo, Dan Pollock’s List, HaGeZi’s Pro Blocklist, dan masih banyak lagi. Blocklist di AGH diibaratkan sebagai entri kosong pada buku telepon DNS sehingga ketika peramban mencoba mengakses situs yang diblokir, respons yang diterima adalah kosong dan tidak bisa dibuka. Oleh karena daftar blocklist yang besar, pengguna bisa dengan bebas memilih mana daftar blokir yang sesuai dengan keinginan mereka. Bisa pilih daftar yang minimalis berisi ratusan hingga ratusan entri, hingga ratusan ribu entri yang komprehensif.

Blocklist yang banyak ini mudah sekali ditambahkan dengan sekali klik pada peraturan daftar blokir. Tingal klik-klik, daftar iklan yang diblokir makin besar dan internetan makin nyaman.

Dasbor Intuitif

Dasbor adalah komponen terpenting dalam pelaporan statistik permintaan DNS pada server AGH. Ia bertugas memvisualisasikan statistik AGH yang ada. Bagi saya, desain dasbor dan keseluruhan aplikasi ini intuitif dan mudah dinavigasi oleh pengguna pemula maupun mengenah-lanjut. Bagian krusial ketika pengguna baru belajar self-hosting dan ingin memblokir iklan secara mandiri.

Dasbor yang intuitif ini mempermudah alur belajar pengguna. Dasbor menampilkan statistik dengan interval yang bisa dipilih, baik itu harian, mingguan, bulanan, atau triwulan, melalui peraturan umum.

Statistik yang ditampilkan berupa jumlah permintaan pada interval teratur, jumlah permintaan yang diblokir, situs virus yang diblokir, dan situs porno atau dewasa yang diblokir.

Saya sendiri suka memantau dasbor AGH karena saya bisa langsung tahu perangkat saya mana saja yang membuat permintaan DNS ke AGH, domain yang paling sering diblokir, serta upstream DNS servers untuk mengetahui kualitas latensi dari server DNS yang digunakan (seperti 1.1.1.1 atau 8.8.8.8). Insights ini yang kemudian memberikan gambaran serta apa yang perlu saya lakukan pada perangkat saya.

Pernah suatu ketika proses memuat dasbor ataupun permintaan DNS berjalan sangat lambat, eh ternyata ada DDoS Amplification Attack yang menggunakan server AGH saya untuk melipatgandakan serangan DDoS sebelum mencapai target. Setelah diketahui, saya buat skrip untuk membatasi akses berdasarkan pencocokan domain dan DNS, yang berjalan baik untuk beberapa bulan sebelum kemudian berhenti karena penyimpanan penuh. Solusinya? Matikan skrip, buang log dan catatan IP yang diblokir, serta tutup akses ke port 53 pada firewall. Setelah port 53 ditutup, hanya klien saya yang bisa mengakses lewat DoH dan Dot, dan UDP 53 untuk jaringan lokal. Dan whoosh, permintaan DNS diproses dalam 5 milidetik saja, dari sebelumnya berdetik-detik hingga waktu habis ketika diserang.

Pemakaian

Saya sendiri sudah pakai AGH sebagai solusi blokir iklan di tingkat DNS atau jaringan sejak 3 tahun lalu ketika saya masuk kuliah dan menyadari manfaat cloud computing bagi mahasiswa. Saya bisa bersaksi bahwa internet yang saya rasakan ketika tidak menggunakan AGH benar-benar tidak bisa digunakan: berat, lelet, dan jelek gara-gara iklan. Hingga kini, sebelum saya mengakses internet dari sebuah perangkat baru, saya akan selalu mengatur DoH di peramban supaya saya dapat menikmati internet agar terhindar dari badai iklan.

Pada beberapa kesempatan, AGH juga berhasil menghentikan saya sebelum jatuh ke situs virus, jadi perangkat saya terbebas dari virus. Tetap pasang antivirus agar perangkat terlindungi dan bebas dari virus.

Baik itu HP, laptop, PC, ataupun perangkat lainnya yang terhubung ke internet, saya selalu memastikannya terhubung ke server AGH saya sebelum saya gunakan, demi keamanan dan kebersihan lalu lintas data yang lebih baik.

Begitulah kira-kira artikel tentang pengalaman saya menggunakan AGH. AGH sebenarnya juga menawarkan fitur berupa server DHCP namun tidak saya tulis di sini karena saya tidak pernah menggunakannya. Salah satu alternatif lain bagi AGH yang populer adalah Pi-Hole, dengan cara kerja yang sama juga tetapi fokus pada penggunaan di Raspberry Pi, sebuah komputer micro.

Jika ada pertanyaan, sampaikan saja di kolom komentar. Semoga bermanfaat.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *